English French Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label adat istiadat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adat istiadat. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Juli 2011

adat istiadat

pada bulan lima, setiap tahun suku dayak merayakan gawai tutup taun, atau disebut juga gawai panen padi.
tapi karena ingin meriahnya maka setiap kampung atau dusun bergiliran mengadakan gawai dayak, supaya setiap dusun bisa saling kungjung atau di sebut juga ngabang dalam bahasa dayak iban dan dayak desa.
dalam hal ini acara yang dilakukan bisa bermacam-macam juga contohnya penyelamatan roh padi beras atau ngamik semengat padi, dan dalam ngamik semengat padi tersebut banyak sekali acara menarik di dalamnya, yaitu bekana, bederak, ngerancak, dan lain-lain..
alat yang digunakan yaitu sebuah perahu mirip burung enggang, dan didalamnya terdapat berbagai macam rempah-rempah.. seperti tuak/minuman khas suku dayak. tepung/ roti khas daerah, pegelak yang didalamnya ada daging babi, dan pada acara tersebut bala tetua adat atau panitia yang bersangkutan menggunakan pakaian adat. dan harus bisa dan pengalaman dalam hal minta berkat dengan betara atau buah kana...dan sampai acara selesai rempah-rempah tersebut baru bisa dimakan...==> bersambung
dipostkan oleh: sintang kota bersemi
Sabtu, 25 Juni 2011

Kebudayaan dan Perubahan: Daya Taman Kalimantan, dalam Arus Modernisasi (Resensi Buku)

Judul buku : Kebudayaan dan Perubahan, Daya Taman Kalimantan dalam arus modernisasi,  Suatu Etnografis Organisasi Sosial dan Kekerabatan dengan Pendekatan Antropologi Hukum. Pengarang : Y.C. Thambun Anyang. Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia bekerjasama dengan Perwakilan Koninklijk Institut Voor Taal-, Land-en Volkenkunde, Jakarta, 1998.
Setiap suku bangsa memiliki ciri khas tersendiri. Demikian pula suku bangsa Taman. Sebagai salah satu entitas Daya Kalimantan, pernak-pernik suku tersebut menarik untuk dikaji.
Masyarakat Taman bermukim di sepanjang sungai sibau, mendalam dan bagian hulu sungai Kapuas di di Provinsi Kalimantan Barat. Cara hidup, panndangan, dan dinamika suku itu perlu dipahami bukan saja oleh perencana dan pelaksana pembangunan, tetapi juga oleh setiap warga negara. Pemahaman itu menjadi semakin urgen, terutama jika dikaitkan dengan upaya mewujudkan cita-cita bhineka tunggalika dan membumikan slogan “kebudayan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional”.

Kajian ini merupakan hasil penelitian pada masyarakat Taman, salah satu kelompok etnis Daya yang bertempat tinggal di Kalimantan Barat daerah Hulu Kapuas di sebelah hulu kota Putussibau berbatasan dengan  daerah Sarawak. Penduduk masyarakat Taman di situ berjumlah sekitar 5000 orang, tersebar pada beberapa kampung, yaitu kampung Banuasio di Sungai Sibau, Semangkok di Sungai Mendalam, dan di Sungai Kapuas meliputi Kampung Sauwe, Malapi, Ingkoktambe, Sayut dan Uranunsa. Mereka Bertetangga dengan Daya Kayan, Iban, Kantuk, Bukat, Punan yang kebudayaan dan adatnya masing-masing berbeda. Juga bertetangga dengan orang Daya di sungai Mandai dan Peniung serumpun dengan Taman dan orang Melayu dan Cina di daerah Kapuas hulu melalui bidang perdagangan yang berada dalam tangan dan penguasaan terutama orang cina. Hubungan dengan orang Melayu tidak saja dalam bidang perdagangan, tapi juga di bidang agama di mana dulu menurut orang tua-tua Taman dan literatur cukup banyak orang Taman yang menganut agama Islam. Hal ini hingga sekarang masih berlanjut walaupun dari segi jumlah sudah sangat sedikit dibandingkan pada masa ketika dulu pernah terdapat kerajaan-kerajaan Melayu.

Pada Bab I diketengahkan mengenai siapakah Daya Taman itu, lingkungan fisik , penduduk, ekonomi, pendidikan dan kesehatan untuk mengetahui gambaran umum Daya Taman.
Kemudian pada Bab II dikemukakan tentang perkembangan sejarah menurut tradisi lisan dan sumber-sumber tertulis. Dari tradisi lisan dicari bagaimana susunan masyarakat Taman, apakah berstruktur egaliter atau sebaliknya. Sedangkan dari sumber tertulis dicari dari mana dan kapan kedatangan orang Daya, Melayu dan Cina sebagai penduduk berjumlah besar di Kalimantan, dan bagaimana hubungan dan pengaruh di antara mereka, khususnya terhadap kehidupan orang Daya. Juga tentang kedatangan dan pengaruh Belanda pada masa kolonial, termasuk Jepang. Dan bagaimana dengan zaman Hindu dan perkiraan penyebaran agama (Hindu, Buddha, Islam dan Protestan) serta pengaruhnya terhadap kepercayaan nenek moyang (agama asli) orang Daya.
Bagaimana orang Taman sendiri memandang penggolongan masyarakatnya diketengahkan pada Bab III. Pada bab ini diupayakan menerangkan bagaimana seharusnya dilihat keberadaan penggolongan itu, yang oleh masyarakat Taman sendiri disebut dengan istilah kanturun banua, kanturun banua, kanturun pabiring dan kanturun samagat. Kemudian melalui penelusuran sumber-sumber tertulis, nama-nama yang dipakai orang Taman dan berbagai istilah yang dipakai para penulis dicoba untuk mencari apakah terdapat pengaruh dari luar sehingga para penulis selama ini memberi label bahwa stratifikasi pada masyarakat Taman ini bersifat hierarkis.
Pada Bab IV dilanjutkan dengan kepemimpinan tradisional yang tampaknya diwarnai oleh keberadaan penggolongan masyarakat. Maksud “tradisional” di sini ditujukan terhadap pola kepemimpinan yang di pandang berasal dari masyarakat yang bersangkutan sendiri. Kemudian dibahas bagaimana peran tetua adat dalam perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kemudian bagaimana kepemimpinan tradisional itu setelah diterapkannya sistem pemerintahan baru dari pemerintah kolonial dan Indonesia merdeka.
Konsep kekerabatan pada masyarakat Taman di bahas pada Bab V, termasuk sampai dimanahal itu diperhatikan  dalampenentuan jodoh seorang anak dari suatu keluarga. Juga pada bab ini dijelaskan tentang konsep dan pentingnya anak bagi suatu keluarga.
Setelah itu, pada Bab VI dibahas berbagai ketentuan tentang perkawinan yang berlaku dan biasanya dijalankan oleh ketiga golongan, meliputi pengertian dan tujuan perkawinan, syarat dan larangan perkawinan, pentahapan proses perkawinan dari melamar sampai pada hari perkawinan diselenggarakan. Di samping itu dibahas bagaimana kemandirian suami istri, siapa yang mengurus orang tua pada masa tua, tempat tinggal menetap setelah kawin dan harta suatu keluarga (kiyen).
Barulah pada Bab VII dibahas relevansi keberadaan penggolongan masyarakat, berhubungan dengan barang yang diserahkan oleh pihak laki-laki pada pihak perempuan dalam perkawinan. Kemudian dicari dasar penentuan jumlah barang yang harus diserahkan itu, siapakah yang berperan dalam penentuan itu dan bagaimana hal itu dilaksanakan secara konkret oleh masing-masing golongan.
Lebih lanjut pada Bab VIII dibahas konsep tentang perkawinan putus dan cara penyelesaian. Kemudian berusaha menemukan dan menjelaskan tentang tidak terdapat relevansi pengolongan masyarakat dalam kasus-kasus perceraian. Akhirnya, pada Bab IX diketengahkan kesimpulan sebagai bab penutup untuk mengakhiri buku ini.

diposkan oleh: sintang kota bersemi

bermacam-macam suku di nusantara

Suku Aceh di NAD : Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen
Suku Alas di NAD : Aceh Tenggara
Suku Alordi NTT : Kabupaten Alor
Suku Ambon di Maluku : Kota Ambon
Suku Ampana, Sulawesi Tengah
Suku Anak Dalam (Anak Rimbo) di Jambi
Suku Aneuk Jamee di NAD : Aceh Selatan, Aceh Barat Daya
Suku Arab-Indonesia
Suku Aru di Maluku : Kepulauan Aru
Suku Asmat di Papua
Suku Bali di Bali terdiri :
Suku Bali Majapahit di sebagian besar Pulau Bali
Suku Bali Aga di Karangasem dan Kintamani
Suku Balantak di di Sulawesi Tengah
Suku Banggai di Sulawesi Tengah : Kabupaten Banggai Kepulauan
Suku Baduy di Banten
Suku Bajau di Kalimantan Timur
Suku Bangka di Bangka Belitung
Suku Banjar di Kalimantan Selatan
Suku Batak di Sumatera Utara terdiri :
Suku Karo Kabupaten Karo
Suku Mandailing di Mandailing Natal
Suku Angkola di Tapanuli Selatan
Suku Toba di Toba Samosir
Suku Pakpak di Pakpak Bharat
Suku Simalungun di Kabupaten Simalungun
Suku Batin di Jambi
Suku Bawean di Jawa Timur : Gresik
Suku Belitung di Bangka Belitung
Suku Bentong, Sulawesi Selatan
Suku Berau di Kalimantan Timur : Kabupaten Berau
Suku Betawi di Jakarta
Suku Bima NTB : Kota Bima
Suku Boti, Timor Tengah Selatan
Suku Bolang Mongondow di Sulawesi Utara : Kabupaten Bolaang Mongondow
Suku Bugis di Sulawesi Selatan
Orang Bugis Pagatan, di Kusan Hilir, Tanah Bumbu, Kalsel
Suku Bungku di Sulawesi Tengah : Kabupaten Morowali
Suku Buru di Maluku : Kabupaten Buru
Suku Buol di Sulawesi Tengah : Kabupaten Buol
Suku Buton di Sulawesi Tenggara : Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau
Suku Bonai di Riau : Kabupaten Rokan Hilir
Suku Damal di Mimika
Suku Dampeles, Sulawesi Tengah
Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
Suku Dayak terdiri :
Suku Punan, Kalimantan Tengah
Suku Kanayatn di Kalimantan Barat
Suku Iban di Kalimantan Barat
Suku Mualang di Kalimantan Barat : Sekadau, Sintang
Suku Bidayuh di Kalimantan Barat : Sanggau
Suku Mali di Kalimantan Barat
Suku Seberuang di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Sekujam di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Sekubang di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Ketungau di Kalimantan Barat

Suku Desa di Kalimantan Barat
Suku Kantuk di Kalimantan Barat
Suku Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
Suku Limbai di Kalimantan Barat
Suku Kebahan di Kalimantan Barat
Suku Pawan di Kalimantan Barat
Suku Tebidah di Kalimantan Barat
Suku Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
Orang Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
Suku Bukit di Kalimantan Selatan
Orang Dayak Pitap di Awayan, Balangan, Kalsel
Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
Suku Dusun Deyah di Kalimantan Selatan : Tabalong
Suku Ngaju di Kalimantan Tengah : Kabupaten Kapuas
Suku Siang Murung di Kalimantan Tengah : Murung Raya
Suku Bara Dia di Kalimantan Tengah : Barito Selatan
Suku Ot Danum di Kalimantan Tengah
Suku Lawangan di Kalimantan Tengah
Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah : Barito Selatan
Suku Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Bukat, Kutai Barat
Suku Busang, Kutai Barat
Suku Ohong, Kutai Barat
Suku Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
Suku Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
Suku Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
Suku Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
Suku Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
Suku Basap, Bontang-Kutai Timur
Suku Ahe, Kabupaten Berau
Suku Tagol, Malinau, rumpun Murut
Suku Brusu, Malinau, rumpun Murut
Suku Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
Suku Lundayeh, Malinau
Suku Pasir di Kalimantan Timur : Kabupaten Pasir
Suku Dusun di Kalimantan Tengah
Suku Maanyan di Kalimantan Tengah : Barito Timur
Orang Maanyan Paju Sapuluh
Orang Maanyan Paju Epat
Orang Maanyan Dayu
Orang Maanyan Paku
Orang Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
Orang Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
Suku Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
Suku Dompu NTB : Kabupaten Dompu
Suku Donggo, Bima
Suku Duri di Sulawesi Selatan
E
Suku Eropa-Indonesia (orang Indo atau peranakan Eropa-Indonesia)
F
Suku Flores di NTT : Flores Timur
G
Suku Gayo di NAD : Gayo Lues Aceh Tengah Bener Meriah
Suku Gorontalo di Gorontalo : Kota Gorontalo
Suku Gumai di Sumatera Selatan : Lahat
Suku Komering di Sumatera Selatan : Baturaja
Suku Semendo di Sumatera Selatan : Muara Enim
Suku Lintang di Sumatera Selatan : Lahat
I
Suku India-Indonesia
J
Suku Banten di Banten
Suku Cirebon di Jawa Barat : Kota Cirebon
Suku Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur
Suku Tengger di Jawa Timur
Suku Osing di Jawa Timur : Banyuwangi
Orang Samin di Jawa Tengah : Purwodadi
Suku Melayu Jambi di Jambi : Kota Jambi
K
Suku Kaili di Sulawesi Tengah : Kota Palu
Suku Kaur di Bengkulu : Kabupaten Kaur
Suku Kayu Agung di Sumatera Selatan
Suku Kerinci di Jambi : Kabupaten Kerinci
Suku Komering di Sumatera Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir
Suku Konjo Pegunungan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Suku Konjo Pesisir, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan
Suku Kulawi di Sulawesi Tengah
Suku Kutai di Kalimantan Timur : Kutai Kartanegara
Suku Kluet di NAD : Aceh Selatan
Suku Krui di Lampung
L
Suku Laut, Kepulauan Riau
Suku Lampung di Lampung
Suku Lematang di Sumatera Selatan
Suku Lembak, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu
Suku Lintang, Sumatera Selatan
Suku Lom, Bangka Belitung
Suku Lore, Sulawesi Tengah
Suku Lubu, daerah perbatasan antara Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Barat
Suku Karo Sumatera Utara
M
Suku Madura di Jawa Timur
Suku Makassar di Sulawesi Selatan : Kota Makassar
Suku Mamasa (Toraja Barat) di Sulawesi Barat : Kabupaten Mamasa
Suku Mandar Sulawesi Barat : Polewali Mandar
Suku Melayu
Suku Melayu Riau di Riau
Suku Melayu Tamiang di NAD : Aceh Tamiang
Suku Mentawai di Sumatera Barat : Kabupaten Kepulauan Mentawai
Suku Minahasa di Sulawesi Utara : Kabupaten Minahasa terdiri 9 subetnik :
Suku Babontehu
Suku Bantik
Suku Pasan Ratahan
Suku Ponosakan
Suku Tonsea
Suku Tontemboan
Suku Toulour
Suku Tonsawang
Suku Tombulu
Suku Minangkabau, Sumatera Barat
Suku Mori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah
Suku Muko-Muko di Bengkulu : Kabupaten Mukomuko
Suku Muna di Sulawesi Tenggara : Kabupaten Muna
N
Suku Nias di Sumatera Utara : Kabupaten Nias, Nias Selatan
O
Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur
Suku Ogan di Sumatera Selatan
P
Suku Papua/Irian
Suku Asmat di Kabupaten Asmat
Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor
Suku Dani, Lembah Baliem, Papua
Suku Ekagi, daerah Paniai, Abepura, Papua
Suku Amungme di Mimika
Suku Bauzi, Mamberamo hilir, Papua utara
Suku Arfak di Manokwari
Suku Kamoro di Mimika
Suku Palembang di Sumatera Selatan : Kota Palembang
Suku Pamona di Sulawesi Tengah : Kabupaten Poso
Suku Pasemah di Sumatera Selatan
Suku Pesisi di Sumatera Utara : Tapanuli Tengah
Suku Pasir di Kalimantan Timur : Kabupaten Pasir
R
Suku Rawa, Rokan Hilir, Riau
Suku Rejang di Bengkulu : Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong
Suku Rote di NTT : Kabupaten Rote Ndao
S
Suku Saluan di Sulawesi Tengah
Suku Sambas (Melayu Sambas) di Kalimantan Barat : Kabupaten Sambas
Suku Sangir di Sulawesi Utara : Kepulauan Sangihe
Suku Sasak di NTB, Lombok
Suku Sekak Bangka
Suku Sekayu di Sumatera Selatan
Suku Semendo di Bengkulu
Suku Serawai di Bengkulu: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma
Suku Simeulue di NAD : Kabupaten Simeulue
Suku Sigulai di NAD : Kabupaten Simeulue bagian utara
Suku Sumbawa Di NTB : Kabupaten Sumbawa
Suku Sumba di NTT : Sumba Barat, Sumba Timur
Suku Sunda di Jawa Barat
T
Suku Talaud di Sulawesi Utara : Kepulauan Talaud
Suku Talang Mamak di Riau : Indragiri Hulu
Suku Tamiang di Aceh : Kabupaten Aceh Tamiang
Suku Tengger di Jawa Timur Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo lereng G. Bromo
Suku Ternate di Maluku Utara : Kota Ternate
Suku Tidore di Maluku Utara : Kota Tidore
Suku Timor di NTT, Kota Kupang
Suku Tionghoa-Indonesia
Orang Cina Parit di Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel
Suku Tojo di Sulawesi Tengah : Kabupaten Tojo Una-Una
Suku Toraja di Sulawesi Selatan : Tana Toraja
Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara : Kendari
Suku Toli Toli di Sulawesi Tengah : Kabupaten Toli-Toli
Suku Tomini di Sulawesi Tengah : Kabupaten Parigi Moutong
U
Suku Una-una di Sulawesi Tengah : Kabupaten Tojo Una-Una
W
Suku Wolio di Sulawesi Tenggara: Buton

diposkan oleh: sintang kota bersemi
Jumat, 24 Juni 2011

TARIAN DAERAH DAYAK

Tari Dadas

Tari Dadas adalah sebuh tari yang berasal dari daerah Barito Selatan. Tarian ini adalah tarian muda-mudi dayak. Dengan menggunakan gelang dadas nuansa tari semakin terasa karena ditampilkan dengan musik yang seirama dengan gerak dan tari para penarinya. Adapun alat musik yang digunakan untuk menarikan tarian Dadas ini adalah gong, kangkanung, gendang dan alat musik khas masyarakat lainnya.

Tari Manggetem


Tari Manggetem adalah tarian kegembiraan masyarakat dayak dalam hal mensyukuri hasil panen yang berlimpah.

Tarian Pagar Ruyung

Tarian dari Kabupaten Lamandau ini sering sekali ditampilkan untuk menyambut kedatangan tamu dari luar daerah.

Tari Potong Pantan

Tarian memakai pakaian khas suku Dayak dengan hiasan bulu burung tingang di atas kepala. Tari Potong Pantan ini juga dilengkapi mandau (senjara khas Dayak) sebagai propertis. Biasanya tarian ini ditampilkan untuk menyambut tamu dalam acara resmi.

Tari Kancet Papatai / Tari Perang

Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan perlatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

Tari Kancet Ledo / Tari Gong

Jika Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Kancet Ledo menggambarkan kelemah-lembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin. Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua belah tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

Tari Kancet Lasan

Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

Tari Leleng

Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.

Tari Hudoq

Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

Tari Hudoq Kita'

Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita' dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita' menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita', yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

Tari Serumpai

Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).

Tari Belian Bawo

Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

Tari Kuyang

Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.

Tari Pecuk Kina

Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.

Tari Datun

Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.

Tari Ngerangkau

Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.

Tari Baraga' Bagantar

Awalnya Baraga' Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.

Tari Giring - giring

Tari Giring-giring adalah salah satu tarian daerah Kalteng dan kab. Bartim pada khususnya. Tarian ini dipopulerkan oleh kalangan suku Dayak Ma’anyan dan ditarikan dalam acara-acara bergembira, menyambut tamu dan juga sebagai selingan pada pesta-pesta atau acara tertentu. Selain itu, tari Giring-giring ini juga digunakan sebagai tarian pergaulan di kalangan muda-mudi. Cara menarinya yaitu dengan menghentakkan satu tongkat ke lantai yang dipegang di tangan kiri dan di tangan kanan memegang bambu yang di dalamnya berisi kerikil sambil digoyang-goyang agar mendapatkan bunyi, sedangkan kaki maju mundur mengikuti irama lagu.
diposkan oleh: sintang kota bersemihttp://kota-sintang.blogspot.com/

Pop up my Cbox